Cari Blog Ini

Rabu, 08 Mei 2024

Lotek Bu Lastri, Simbol Keuletan Mengubah Nasib

 

bu lastri penjual lotek
Bu Lastri sedang menyiapkan lotek di lapaknya. Foto: dok.pri/GFU 


Cilacap, kopidarigita.com --Kita memang tidak bisa memilih dilahirkan di dalam keluarga yang sempurna, dan ideal di mata manusia. Maka ada yang tumbuh besar dalam keluarga berkecukupan materi, sebaliknya ada pula yang dibesarkan dalam kondisi serba kekurangan.

Namun yang menjadi kesamaan, Tuhan menganugerahkan hati, dan akal kepada manusia. Sehingga kelak kita dapat berusaha mengubah nasib, sekuat kemampuan. Sebagaimana halnya yang kini dijalani oleh Dewi Sulastri dari Donan, Cilacap, Jawa Tengah.

Ia lahir sebagai anak kedua dari 4 bersaudara. Sejak kecil ia dan saudaranya akrab dengan kondisi kekurangan. Sebab orangtuanya bukan orang berada. Hal ini ternyata membentuk watak pejuang dalam diri Sulastri dan saudara-saudaranya.

Ketika beranjak dewasa, ia tak malu bekerja mengais rezeki. Perempuan yang akrab disapa Lastri oleh lingkungannya ini punya impian mengumpulkan modal, untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Maka pada tahun 2000 ia berangkat kerja ke Malaysia, untuk menjalani kontrak selama dua tahun.

Tahun 2002 setelah selesai kontrak kerja, ia pulang. Dari hasil jerih payahnya itu, Lastri berhasil mewujudkan impian membangun rumah di atas sebuah lahan kosong. Rumah ini awalnya untuk ditinggali bersama keluarganya. Sebab sebelum itu, keluarga Lastri hanya bisa berpindah-pindah rumah kontrakan.

Lalu di tahun 2003 ia menikah dengan Ihsan, pemuda pilihan hatinya. Masih dari hasil tabungannya, ia bisa menyelenggarakan acara pernikahannya, tanpa meminta biaya pada kedua orangtuanya. Setelah menikah, Lastri memutuskan tidak akan pergi merantau kembali. Sesulit apapun kehidupannya kelak, ia bertekad menjalaninya berdua sang suami, di negeri sendiri.

Tahun-tahun awal pernikahan adalah masa sulit bagi pasangan ini. Pendapatan suami belum mencukupi, ditambah kehadiran anak, cukup membuat Lastri merasa pusing. Hingga di tahun 2008, kepulangan adiknya dari negeri jiran membawa secercah harapan.  Muncullah ide dari sang adik agar Lastri membuka warung di depan rumahnya. Ide itu tidak serta merta diterima. Namun karena menimbang inilah jalan terbaik bagi dirinya dapat menambah pemasukan tanpa meninggalkan anak, Lastri akhirnya mau mencoba.

Tidak mudah menjalankan usaha warung. Lastri mengalami jatuh bangun terlebih dahulu. Keuntungan yang diperoleh tidak seberapa apabila hanya menjual jajanan kemasan. Maka Lastri nekat menjual tabungan daruratnya, berupa sebuah cincin emas. Dari situ ia menambah item jualannya, berupa es campur dan lotek (sejenis pecel). Perlahan-lahan usahanya menunjukkan kemajuan. Mulailah ia berbenah sedikit demi sedikit agar tampilan warung kian apik.

Memasuki medio 2012 Lastri menambahkan gorengan ke dalam menu dagangan. Mendoan, tahu brontak, pisang goreng, dan bakwan hasil karyanya dijual enak dan murah sehingga dicari pelanggan. Kenyataan ini membuat Lastri makin jeli membaca keinginan pembeli. Ketika anaknya memasuki SMP, ia melihat peluang anak sekolah yang setiap pagi membutuhkan sarapan. Dan di sekitar warungnya belum ada pesaing usaha serupa. Maka ia putuskan jualan nasi rames sejak selepas subuh hingga jam 8 pagi.

Keputusan-keputusan Lastri berbuah manis. Berkat keuletan dan kerelaannya mengorbankan waktu istirahat, usaha warungnya kian maju.  Dampaknya pun terasa signifikan pada perekonomian keluarga.

Belum lama ini, tepatnya sejak bulan Ramadhan lalu, Lastri mencoba membuka lapak lotek dan gorengan bersama suaminya, di depan Lapangan Karang Suci, Donan. Menurut pasutri ini, hasil yang diperoleh ternyata lumayan. Sehingga mereka memutuskan untuk lanjut berjualan lotek dan gorengan  di tempat tersebut.

“Untuk pelanggan yang biasa beli di rumah tetap saya layani. Mereka bisa WA  ke saya, nanti lotek atau gorengannya dianter sama suami,” terangnya ketika saya bertanya bagaimana nasib pelanggan lamanya, belum lama ini.

Demikianlah. Perjalanan hidup yang keras mampu menempa watak seseorang, untuk jadi pejuang ataukah pecundang? Pilihan ada di tangan kita sendiri.

Dewi Sulastri adalah contoh yang memilih menjadi pejuang. (*)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar