![]() |
| Ilustrasi Ramadhan sebagai bengkel jiwa (Nano Banana/Gemini AI) |
Oleh: Gita FU
Cilacap, kopidarigita.com--Halo, Sobat kopidarigita! Ketemu lagi kita di bulan Ramadhan 1447 H. In this economy era, berhasil menjumpai bulan mulia ini adalah merupakan suatu keberuntungan besar menurutku. Ibaratnya begini: sebelas bulan kita tertatih-tatih menjalani kehidupan, maka ini saatnya kita mereparasi kerusakan-kerusakan yang terjadi selama perjalanan. Nah, bulan ramadhan adalah bengkel untuk keperluan tersebut.
Namun tentu saja keistimewaan bulan ini bakal berlalu begitu saja, kalau dari diri sendiri tidak ada kemauan mendapatkannya. Maka kupikir kali ini aku perlu memasang target pribadi. Supaya aku tidak terdistraksi hal-hal lainnya. Target ini meliputi perkara kalbu dan pikiran.
1. Kalbu
Kalbu atau batiniah, adalah bagian yang menopang ku dari dalam. Aku ingin memiliki kalbu yang lembut, tidak gampang emosi. Maka langkah yang bisa kulakukan adalah memperbaiki kualitas ibadahku, yaitu:
- Sholat lima waktu di awal waktu. Perkara ini jujur aku sering tidak disiplin. Ketika waktu sholat tiba, aku merasa ketanggungan mengerjakan hal lain, misal memasak, mencuci, menjemur, atau (yang paling buruk) asyik scrolling di medsos. Padahal aku sering mengkaji bab keutamaan sholat di awal waktu. So, aku akan berusaha memperbaiki hal ini.
- Memperbanyak baca Al-Qur'an. Jujur, ada masa di mana kebiasaan tadarus kulakukan setiap habis sholat subuh dan magrib. Namun akhir-akhir ini aku kerap melupakan rutinitas tersebut. Jangankan konsisten soal waktu, kualitas bacaanku pun memburuk. Maka, aku bertekad memperbaiki hal ini.
- Memperbanyak zikir. Aku tahu dari kajian, bahwa hati yang kosong dari zikir akan terisi angan-angan. Betul, itu yang kurasakan. Aku kerap berangan-angan yang mustahil, terutama menyikapi kondisi finansial kami sekarang. Lalu aku bakal merasa marah terhadap Allah, dan menyalahkan Dia. Astaghfirullah, aku sungguh zalim. Aku harus memperbaiki kondisi ini.
- Sering berbagi atau bersedekah. Ini hal yang terasa tak masuk akal jika dompetmu sedang sekarat. Berbagai alasan muncul agar aku tak perlu berbagi kepada siapapun. Padahal itu pikiran keliru. Berbagi atau bersedekah tak harus dengan uang. Mempermudah urusan orang lain pun bisa dikategorikan bersedekah.
2. Pikiran
Pikiran yang sempit bisa jadi berawal dari wawasan yang picik, gampang menyerah, dan menyalahkan Allah. Maka kupikir aku harus keluar dari kondisi tersebut. Caranya antara lain: banyak membaca, banyak mendengarkan nasihat, aktif berdiskusi dengan orang yang berilmu, rajin meningkatkan kapasitas diri dengan ilmu yang tepat.
Allah berfirman dalam kalam-Nya, bahwa Dia tak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang ingin berubah. Maknanya, jika ingin ditolong Allah untuk keluar dari keadaan yang sulit, maka bergeraklah. Bergerak mencari jawaban, mencari data upaya pertolongan. Maka jalan keluar itu akan muncul.
Atau analogi lain:
Seorang pria mengalami bocor ban motor. Padahal ia sedang berada di wilayah yang amat sepi, rumah-rumah penduduk pun nyaris langka. Ia sudah lelah, tapi jika memutuskan berhenti maka masalah ban bocornya pun tidak hilang. Maka ia putuskan terus saja berjalan.
Hingga akhirnya pertolongan Allah datang melalui munculnya seorang penduduk. Akhir cerita, lelaki itu mendapat pertolongan. Penduduk yang muncul itu bersedia mendorong motor dengan cara di-step dari belakang. Bayangkan hal yang mungkin terjadi, jika lelaki itu tetap diam di tempat semula setelah mengalami ban bocor.
Demikianlah sobat. Aku berharap tulisan ini menjadi pengingat buatku, untuk betul-betul memperbaiki diri di bulan Ramadhan.
"Challenge Menulis IIDN"
