Cari Blog Ini

Rabu, 29 November 2023

Cigimbal Jaya Jadi Saksi Silaturahmi Antara Diskominfo Cilacap dan Jurnalis Media Online

 

Peserta dan penyelenggara media gathering 2023
Keakraban peserta dan penyelenggara Kursus Singkat/Pelatihan Media Gathering 2023. Foto: SS 


Oleh Gita FU

Sobat kopidarigita, hari Rabu (29/11/2023) ini saya ikut merayakan sebuah momen manis, dan baru pertama kali terjadi di tahun 2023. Yakni momen silaturahmi antara Diskominfo Kabupaten Cilacap, dengan puluhan wartawan media online di Cilacap. 

Seperti yang dikatakan oleh Edi Eriza dari koransatu.id, bahwasannya para wartawan media online patut bersyukur atas kesediaan Diskominfo Cilacap membuka 'pintu'.  Sebab bagaimanapun dinas yang memiliki kewenangan mengatur masalah komunikasi dan informasi ini, adalah 'bapak' bagi para wartawan dan jurnalis. 

Sekretaris Dinas Kominfo Cilacap Sukaryanto dan Kabid Pengelolaan Informasi dan Pengembangan Komunikasi Publik Sherly D.P. Foto: GFU

Acara silaturahmi yang diberi tajuk Kursus Singkat/Pelatihan Media Gathering dan Pembinaan Tahun 2023 ini dibuka oleh Sekretaris Dinas Kominfo Cilacap Sukaryanto, di Ruang Rapat. 

Sebelumnya ia menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Kepala Diskominfo Cilacap  Supriyanto, yang semula akan membuka acara. 

"Bapak Kepala Dinas sedang berada di Yogyakarta karena mendapat tugas dari Bapak Pj Bupati Cilacap," ungkapnya. 

Pada intinya, kata Sukaryanto, acara ini adalah wujud silaturahmi antara Diskominfo Cilacap dengan wartawan/jurnalis media online.

Sukaryanto didampingi oleh Kepala Bidang Pengelolaan Informasi dan Pengembangan Komunikasi Publik Kabupaten Cilacap, Sherly Diah Permanasari. 

Dalam sambutannya Sherly mengharapkan kerjasama dari wartawan,  guna mendukung program kerja Pemkab Cilacap. 

"Harapannya bisa lebih bersinergi antara jurnalis dan Diskominfo," ucapnya.


Refreshing ke Cigimbal Jaya


Lokawisata Mangrove Cigimbal Jaya di Kelurahan Tritih Kulon, Kecamatan Cilacap Utara, selanjutnya menjadi tujuan rombongan panitia dan peserta acara silaturahmi. 

Di salah satu saung yang telah disiapkan, para peserta disuguhi makanan ringan, dan minuman, sebagai teman mendengarkan materi pelatihan. Suasana  sejuk terasa karena kami berada di lingkungan yang asri. 

Materi pelatihan diisi oleh pihak Kejaksaan Negeri Cilacap. Dalam hal ini diwakili oleh Jaksa Fungsional Samikun, dan Daikan Aolia Arfan. 



Pemateri dari Kejaksaan Negeri dan Diskominfo Cilacap. Foto: GFU


Mereka bergiliran menyampaikan sejumlah poin. Antara lain mengingatkan kerja jurnalis atau wartawan yang terikat pada UU Pers No 40 tahun 1999, dan Kode Etik Jurnalistik. 

Pihak Kejari juga menghimbau agar para awak media turut menjaga kedamaian, ketenangan, dan kelancaran menuju Pemilu 2024.

Panitia membuka kesempatan untuk sesi tanya jawab, dan sharing di sela pemberian materi. Tak lupa Sherly kembali menyatakan dukungan dari Diskominfo Cilacap, kepada organisasi-organisasi Pers yang ada di Cilacap, contoh : PWMOI dan IPJT. 


Ramah Tamah yang Mencairkan Suasana


Acara silaturahmi terasa tak lengkap tanpa jamuan makan, plus hiburan. Nah, di Cigimbal Jaya kami disuguhi menu makan siang Gurame Lombok Ijo, Oseng Kangkung, Pepaya, dan tempe goreng. 

Tak lupa sebagian peserta dan panitia  menyumbangkan suara emas mereka, berkaraoke lagu-lagu populer untuk menghibur semuanya. Obrolan akrab pun tercipta di sana-sini. 

Ssst, saya sendiri ikut (nekat) menyanyi. Lagu yang saya pilih (dan cuma itu yang terlintas di pikiran) adalah Hampa, dari Ari Lasso. Lumayan, melepas ketegangan. 

Saya pribadi bersyukur telah menjadi bagian dalam momen ini. Saya bisa bertemu banyak teman media, terutama yang selama ini hanya berjumpa via WAG. Contohnya, teman-teman dari Cilacap Barat. Plus mendapat kenalan baru. Inilah berkah silaturahmi. 

Terima kasih kepada Diskominfo Cilacap. 


Saya dan Bu Jasmirah, wartawan swaranasionalpos. Foto: Jas

Kamis, 23 November 2023

Melongok Kejayaan Cilacap Tempo Doeloe Melalui Film 'Pantjak'

 

Poster Film Pantjak
Poster Film Pantjak di Dakota Cinema Cilacap. Foto: GFU


Oleh: Gita FU


Halo Sobat kopidarigita! Semoga kalian selalu dalam keadaan sehat, dan bahagia, ya.

Hari Rabu, 22 November 2023 sore, saya dan beberapa teman Forum Literasi Cilacap  menghadiri undangan Nobar Film 'Pantjak', di Dakota Cinema  Cilacap. 'Pantjak' sendiri merupakan akronim Panca Tjakrawedana. Film ini dibesut oleh Cilacap Kreatif, sebuah komunitas yang diketuai oleh Romi Jabrand dan mewadahi komunitas-komunitas anak muda kreatif di Cilacap.

Saya datang pukul 15.30 WIB, disambut oleh panitia yang mengarahkan ke meja registrasi. Usai membubuhkan tanda tangan di lembar kehadiran, saya diberi secarik stick-it note dan sebatang spidol. Kata Mbak Nurul, salah satu panitia, itu untuk  menuliskan harapan saya terhadap kota Cilacap. Saya pun ditunjuki papan tempat menempelkan kertas, di dekat pintu masuk Studio 2.

Sambil menunggu teman saya Bu Yetti As Sofie, saya duduk melipir di salah satu kursi besi di ruang tunggu. Ada poster promo sebesar dinding dari film Perjamuan Iblis. Waktu beranjak menuju pukul 16, semakin banyak tamu undangan Nobar berdatangan. Salah satunya saya kenali, dia Mas Riyadh Ginanjar, Ketua Komunitas Tjilajap History. Kami lalu mengobrol sejenak, hingga Bu Yetti datang.

Tak lama berselang para tamu dipersilakan memasuki Studio 2. Waktunya menonton Film Pantjak...

'Pantjak': Nostalgia Kejayaan Masa Lalu

Foto bareng tim dan penonton
Tim Produksi Film bersama para penonton. Foto: GFU


Film  dokumenter ini disutradarai  oleh Dismas Panglipur. Penulis naskah dan astrada dijabat oleh Olyvia Jasso. Sementara Romi Angger Hidayat a.k.a Romi Jabrand, bertindak sebagai produser. Sejumlah tokoh menjadi lakon yang bercerita dalam film yang dibagi menjadi   5 (lima) bab: Veteran, Unit Berjaya, Keluarga, Tjilatjap Kreatif, dan Panca Tjakrawedana.

Fokus film ada pada sebuah gedung megah di Jalan Pemintalan - Jalan Kendil Wesi, Cilacap, yakni Pabrik Pemintalan Tjilatjap. Pabrik ini beroperasi mulai tahun 1956, sebagai pabrik besar  pertama di Cilacap setelah penyerangan Jepang tahun 1942.

Timeline Pantjak
Timeline dalam film Pantjak. Foto : GFU



NV. Pemintalan Kapas Cilacap tercatat sebagai pihak penggagas pendirian pabrik ini. Selanjutnya Pabrik Pemintalan Tjilatjap berkembang pesat, bahkan menjadi salah satu pabrik textil terbesar di Asia Tenggara. Kesejahteraan para karyawan amat terjamin kala itu. Sampai pada masa orba namanya berubah menjadi PT. Industri Sandang Nusantara II (Unit Patal Cilacap).

Masa-masa keemasan Patal Cilacap tersebut bisa kita ikuti lewat penuturan tiga orang veteran atau mantan karyawan. Diselingi foto-foto, serta video kompleks gedung megah itu. Saya cukup terpukau dibuatnya. Bayangkan, sebuah kompleks pabrik yang dilengkapi perumahan, lapangan olahraga, klinik kesehatan, aula luas, dan  kendaraan antar jemput karyawan. Selain itu interior dan eksterior gedung pun kokoh, apik, khas bangunan peninggalan Belanda. 

Foto Patal Cilacap
Dokumentasi Pabrik Pemintalan Cilacap. Foto: flyer timpro/GFU



Intinya, pabrik ini pada masanya telah membuat Cilacap terkenal hingga ke luar negeri. Wow, banget, kan?


Sayangnya, seperti semua kisah masa lalu, kejayaan itu seolah terlupakan oleh generasi masa kini. Anak muda Cilacap seolah tak punya ingatan bahwa mereka punya hal yang pantas dibanggakan. Bahkan kebanyakan anak muda sekarang sibuk mencari panutan dari luar daerah Cilacap. Kreativitas menjadi tumpul di dalam.

Upaya Menghidupkan Semangat Kreatif


Konon, manusia kreatif itu mampu memikirkan solusi bagi masalah yang menimpanya, aktif berdaya upaya, tidak pasif maupun pasrah begitu saja menerima keadaan. Mereka ini diharapkan bisa menjadi suar bagi sekitar, dengan menciptakan ekosistem kreatif.

Kegiatan Coding for kids di Peken Banyumasan Tjilatjap. Foto: IG cilacap.kreatif



Menurut Romi Jabran dalam bincang-bincang usai pemutaran film, itulah tujuan Pantjak. "Sebagai penghubung ekosistem kreatif di Cilacap," tuturnya.

Pria muda berambut gondrong ini  melihat Gedung Patal sebagai wajah Cilacap di dunia. "Saat itu terkenal hingga Asia Tenggara. Jadi (film) ini sbg pemantiknya."

Sementara Riyadh Ginanjar  dari Tjilatjap History menyebut alasannya memilih Pabrik Pemintalan adalah karena sejarah panjang dari  masa  jaya hingga bangkrut. 

"Masyarakat harus tahu. Waktu itu terbesar di Asia Tenggara. Kita berharap gedung pemintalan menjadi gedung sejarah Cilacap," ucapnya.

Apalagi, menurut Riyadh, dahulu Presiden Sukarno merestui pembangunan Pabrik Pemintalan Tjilatjap dengan semangat tak mau kalah dari Italia sebagai negara maju kala itu.


Kolaborasi Lintas Komunitas 


Dismas Panglipur selaku sutradara punya pendapat berbeda mengenai Pabrik  Pemintalan Tjilatjap. Demi mengetahui sejarahnya yang panjang membuat anak muda ini ingin menuangkan ke dalam bentuk visual.

"Saya berharap ruangan Patal bisa diaktivasi untuk kegiatan publik," ujarnya.

Senada dengan Dismas, Olyvia sang penulis naskah merasa terpukau dengan sejarah Pemintalan. Sehingga dia ingin menceritakan sejarah tersebut dari pelakunya sendiri.

Salah satu pegiat komunitas yang aktif berkolaborasi dalam kegiatan Cilacap Kreatif  yakni Nurul Mae, dari Komunitas Belajar Semesta Alam, mengatakan alasannya bergabung.

"Komunitas saya menyoroti kearifan lokal. Sehingga saya masuk sebagai talent dan mengadakan kegiatan komunitas di Patal," sebutnya.

Kolaborasi komunitas. Dok : IG cilacap.kreatif


Dampak dari kegiatan tersebut  menurut Nurul ada dua yaitu internal dan eksternal. "Secara internal, karena di Peken Banyumasan Tjilatjap adalah kolab lintas komunitas  maka saya merasa lebih rendah hati, belajar menghargai orang lain, dan berempati. Eksternalnya, peserta Dolan Bareng merasa amat antusias mengikuti (Dolan Bareng) di Patal," simpulnya.


Usai bincang-bincang, panitia mengajak penonton yang nyaris memenuhi Studio 2, untuk berfoto dan ber-flash mob bersama. Kabar selanjutnya dari Romi Jabrand, film Pantjak bulan depan akan diputar di Rajawali Cinema Purwokerto, serta diikutkan festival film.

"Dan kegiatan rutin Peken Tjilatjapan mulai bulan depan di  Pabrik Pemintalan Cilacap," pungkas Romi.


Begitulah oleh-oleh dari Nobar Film Pantjak, Sob. Bagaimana pendapat kalian? Kalo menurut saya, ekosistem kreatif perlu kerjasama dan komitmen lintas sektor. Tidak hanya dari pelaku, tapi juga pemangku kepentingan, stakeholders terkait, dan masyarakat luas. Oh iya, kalian bisa mencari tahu lebih lanjut tentang kegiatan-kegiatan tersebut di atas melalui akun IG: @cilacap.kreatif  @pekentjilatjapan @tjilatjaphistory 





Minggu, 19 November 2023

Staycation Nyaman di Hotel Dafam Cilacap

 
Lobi Hotel Dafam Cilacap
Lobi Hotel Dafam Cilacap. Foto: GFU


Oleh: Gita FU


Halo, Sobat kopidarigita! Apa kabar? Semoga kalian selalu dalam kondisi terbaik, dan bahagia, ya. 

Awal bulan September lalu tulisanku meraih juara kedua pada Lomba Artikel Blog Dafam Cilacap & @Cilacap_Kekinian. Sebagai reward-nya aku mendapatkan voucher menginap di Deluxe Pool View untuk satu malam plus voucher makan di Restoran Canting.  Alhamdulillah, senang dan bersyukur, dong pastinya. Selain itu semangat menulisku jadi tetap menyala. Terima kasih Dafam Cilacap.


Sertifikat Juara 2 dan Hadiahnya. Foto: GFU


Hanya saja karena aneka kesibukan dan ujian hidup (ceileee, paansiy!) kesempatan menggunakan hadiah itu baru bisa kesampaian hari Sabtu (18/11/2023). Hikmahnya ada: aku bisa mengajak Farhan, Hanna, dan Hanif, alias trio Han buat menikmati wiken. Suamiku jaga gawang, eh, rumah bersama Simbah. ^^

Kami berangkat jam 2 siang sesuai waktu check in. Mbak resepsionis yang ramah dan baik hati menyambut dengan full senyum. Kami diberi kamar nomor 121, dan sesuai tipe tentu saja letaknya berhadapan dengan kolam renang. Wah, Hanna dan Hanif girang banget liat air. Kalo si Farhan, mah, awalnya jaim. Ujung-ujungnya ya nyebur  juga. 

Baca juga: Mengulik Keunikan Cilacap

Kondisi Kamar

Aku ingin kasih gambaran dulu nih, tentang kamar Deluxe Pool View.


Kolam renang yang berada di luar kamar Deluxe Pool View. Foto: GFU

Selain berhadapan dengan kolam renang, kamar ini lumayan luas. Di dalamnya ada doble bed yang muat untuk kami berempat. Di samping kanan kiri bed ada meja kecil dengan colokan listrik. Di sudut kiri ada meja kerja nyaman, yang di atasnya terdapat pemanas air untuk bikin teh/kopi plus air mineral. 

Meja kerja di sudut sebelah kiri kamar. Foto: GFU



Kamar mandi dengan shower air panas/dingin, wastafel plus  toiletris, dan kloset duduk. Di luar kamar mandi ada cermin, lemari baju kecil, dan sejumlah hanger baju. Masih tersisa space yang lega untuk sholat di dalam kamar.

Kamar ini juga dilengkapi dengan LED TV, AC, pesawat telepon indoor, dan koneksi Wifi yang lancar jaya. Oh iya, interiornya simpel, dan homey. Pokoknya nyamanlah buat beristirahat.

Double bed yang cukup lega. Foto: GFU


Kolam Renang  

Setelah sholat Ashar barulah anak-anak kuizinkan berenang. Ada 2 kolam dengan kedalaman berbeda: 90 dan 125 cm. Suhu air juga berbeda. Kolam 90 cm terasa lebih dingin dibandingkan kolam 125 cm. Wajar, sih. Sebab kolam yang dangkal letaknya seolah tersembunyi, diapit oleh dinding-dinding alam buatan ala tebing air terjun. Sedangkan kolam satunya menempati area yang terpapar sinar matahari.

Btw, Hanif malah lebih suka yang dingin. Padahal aku menggigil di situ. ^^


Kolam dangkal nan sejuk. Foto: GFU

Oh iya, pihak manajemen hotel sudah memasang pemberitahuan tertulis bahwasannya mereka tidak menyediakan lifeguard. Sehingga tamu hotel maupun pengunjung yang ingin berenang wajib menjaga keselamatan diri sendiri. Menurutku tidak masalah, sih. Toh, area kolam tidak terlalu besar.

Kami tidak sendirian Sabtu sore itu. Sudah ada tamu lain yang sama-sama membawa anak kecil tengah asyik berenang. Tentu saja itu bukan masalah. Anak-anak tetap hepi berenang dan bermain air. ^^ Berenang sesi kedua kami lakukan Minggu pagi setelah sarapan.


Cafe Teras

Malam minggu hujan turun deras. Hanif tidur awal setelah kecapekan berenang. Aku dan Hanna memanfaatkan kesempatan untuk pergi ke Cafe Teras. Sementara Farhan setuju menunggui adiknya. Tujuanku ke Cafe Teras tentu saja mencoba menu Nasi Balap Mak Sanggul, dan ngopi di Kopi Salem.^^

Wow, rekomendasi Mbak Lina Sophy memang tepat! Rasa menu Nasi Balap memang enak. Aku memesan Nasi Balap Polos seharga 7 ribu, untuk Hanna Nasi Balap Ayam Suwir seharga 12 ribu. Seporsi itu saja beneran  bikin  kenyang! Hanya saja Hanna sedikit nggak tahan dengan rasa pedas sambalnya. Hehe. 


Penampakan Cafe Teras. Foto: GFU


Kopi Salem-nya juga enak. Aku memesan Kopi Hitam seharga 5 ribu. Kemudian Farhan yang datang belakangan memesan Espresso-nya, dengan harga 18 ribu. Enak, tidak terlalu pahit. 

Aku juga sempat bertemu Mas Riyadh Ginanjar di stand Kopi Salem. Kami mengobrol lumayan banyak, tentang Cilacap, sejarah,dan lain-lain.Sayang, obrolan tak bisa berlangsung lama karena hujan kian deras, dan aku  khawatir Hanif terbangun.


Sarapan di Restoran Canting

Paginya kami berempat  sarapan di Restoran Canting. Karena masih awal  belum banyak tamu hotel yang datang. Pilihan menunya variatif. Untuk minuman tersedia: air mineral, jus  buah, infused water, susu, kopi, teh. Makanannya terdiri dari: sereal, buah potong, salad sayur, Nasi Goreng Rendang, nasi putih beserta sayur dan lauk, aneka kue dan cemilan tradisional. 

Anak-anak amat bersemangat mencoba menu. Hanna dan    Hanif sepakat memilih sereal dan susu, buah potong, jus buah. Sementara aku dan Farhan mencoba Nasi Goreng Rendang, buah potong, jus buah, dan kopi. 

Memang tidak salah, sih. Rasa makanan di Dafam Cilacap memang enak!


Menu sarapan di Restoran Canting. Foto: GFU

Akhir kata, cuma satu kata yang pas untuk menggambarkan pengalaman staycation kami di Hotel Dafam Cilacap: Nyaman. Cocok untuk berlibur bareng keluarga, atau untuk persinggahan bisnis. Pilihan kamar  pun beragam dengan rate berbeda. Fyi, untuk Deluxr Pool View sendiri tarifnya 450 ribu per malam termasuk sarapan untuk 2 orang, ya. 

Info lebih lanjut tentang Hotel Dafam Cilacap bisa sobat peroleh di sini. Sampai jumpa di tulisanku berikutnya, Sobat! Terima kasih.