Cari Blog Ini

Selasa, 20 Februari 2018

[Cerpen] Pohon Kepuh dan Cerita-Ceritanya


(Dimuat di Radar Mojokerto- Minggu, 11 Juni 2017)

Konon, di Karang Suci dulunya terdapat kerajaan kethek--kera dalam bahasa Jawa. Mereka mendiami istana Pohon Kepuh yang berdiri megah di tengah pekuburan manusia.

Para kethek hidup  bahagia. Bersuka ria semenjak fajar hingga malam menutup hari. Mereka bebas berlompatan-menggaruk bokong-mencari kutu-berkelahi-kawin-beranak-menggosip. Semua yang umum dilakukan kaum berekor panjang itu.
Pada mulanya jumlah mereka melimpah-limpah melebihi manusia peziarah. Para kethek seolah penguasa pekuburan dan orang harus membawa upeti buat mereka mulai dari makanan hingga kembang kamboja. Itu perlu agar kegiatan menggali, mengubur, menabur bunga, dan mendoakan arwah tidak diganggu makhluk penjerit tersebut.

Namun roda berputar. Pesta selalu berakhir. Hukum alam berlaku tanpa mengecualikan hewan seperti kethek. Gelombang manusia berdatangan mengantar sanak kekasih tetangga hingga orang gila ke balik tanah basah.
Orang-orang mati memerlukan tempat istirahat. Orang-orang hidup membutuhkan tempat menunjukkan duka di atas gundukan si mati. Para kethek mulai terusik. Mereka kalah jumlah hilang kuasa. Seolah merestui kebutuhan manusia, sang Pohon Kepuh nan agung roboh! Maklumlah usianya sudah tua gigi tinggal dua dan tak sanggup menanggung amara.

Wuss. Para kethek tersapu angin hilang lenyap dari Karang Suci. Meninggalkan legenda yang merasuk.

***

Seto mengucek mata. Perjalanan enam jam sejak tengah hari dalam bus ekonomi dari Bandung berakhir sudah. Ia meregangkan tubuh penat hingga terdengar bunyi gemeretak. Teman sebangkunya sudah lama turun bersama arus penumpang lain. Ia yang tersisa.

Langit muram Cilacap menyambutnya. Di jalan debu bercampur dedaunan campur aneka sampah plastik berputar di udara. Orang-orang menutupi wajah mereka. Partikel debu kencang siap menampar siapa saja tak terkecuali Seto. Ia mengayuh langkah setengah berlari keluar terminal, mengabaikan tawaran para pengojek. Adiknya berjanji menjemput. Semoga anak itu sudah datang, batin Seto.

Seorang remaja usia SMP melambaikan tangan. Ia mencangkung di atas bebek hitam setrip biru. "Cepetan, Mas! Sebentar lagi hujan!" Segera setelah pantat Seto mendarat di jok, si adik menggeber  sang bebek. Menembus  lalu lintas kota yang berdenyut kencang; berpacu mendahului hujan. Seto menekap tas dan kardus kecilnya erat-erat.

Rumah, aku pulang; bisiknya.

Dua tahun ia bertahan dalam kamar pengap di pinggir Bandung sana. Menyesapi hari demi hari sebagai buruh pabrik tekstil. Ia selalu kelelahan. Tak pernah cukup waktu luang. Tak pernah cukup simpanan uang. Semua alasan itu yang dikemukakan jika ibunya meminta ia pulang. Untuk apa pulang? Belum ada monumen membanggakan bisa ia tunjukkan. Pun tidak seorang mojang bakal bini. Ia merasa cukup hanya unjuk suara di telepon genggam. Atau sekali waktu mengirim duit lewat bank pemerintah.

Seto tahu ibunya tak akan terlantar hanya karena ia menolak pulang. Banyak kerabat di Cilacap. Masih ada kakak perempuan dan adik laki-laki sebagai penjaga ibu. Mereka semua punya tangan dan kaki lengkap untuk mencari makan. Jadi, tidak pulang adalah pilihannya.
Kecuali hari ini.

Ibu menyambutnya dengan kerinduan meruap. Momen singkat menjelang magrib dipergunakan wanita separuh baya itu untuk mengusap wajah sang putra sembari duduk di kursi ruang tamu. Kakak dan adik Seto sudah lenyap dalam kesibukan setelah basa-basi sejenak.

"Maaf, Bu. Aku ndak bawa banyak oleh-oleh," ucap Seto pelan. Wanita tersebut tersenyum lebar, ada kilau kaca di dalam matanya.

"Kamu ini! Kamu mau pulang saja Ibu 'dah seneng!" Seto merasa jengah. Bagaimana pun ada bongkah rasa bersalah muncul melihat reaksi Ibu atas kepulangannya. Ia berdehem.

"Oh iya! Kamu pasti capek, ya. Sudah sana ganti baju di kamar. Terus ke dapur, makan dulu," instruksi Ibu.

"Jam berapa selametannya, Bu?"

"Nanti lepas Isya." Ibu beranjak ke dapur meninggalkan Seto.

Inilah alasan kepulangan Seto : acara mendhak pindho² sang Ayah. Walau ia harus mengajukan izin kerja karena hitungannya jatuh pada hari Kamis Wage--malam Jumat Kliwon. Seto melanggar tekad 'jarang pulangnya' sebab rasa bakti  pada almarhum.

Kenangan yang tersisa pada Seto tentang Ayah ialah permaklumannya. Apa saja polah laku tiga anaknya, dihadapi Pak Birun dengan hati lapang. Saat mbak Surti menjanda di usia pertengahan dua puluhan akibat ditinggal mati suaminya yang gembong curanmor--ditembak petugas polisi--, Ayah menganggap itu wajar. Ketika Seto mbalelo tak mau mengikuti ujian sekolah menengah atas dan malah masyuk jadi penerbang merpati, Ayah tak  muntab. Pun saat si bungsu Rino hobi merusak mainan miliknya dan milik anak tetangga, Ayah menanggapi santai saja. Justru Ibu yang murka, menangis, menyumpah-nyumpah.

Karena itu Seto merasa berhutang budi. Ayahnya orang baik, yang kematiannya akibat ditabrak lari pemuda mabuk sepulang mancing di satu petang, masih disesali Seto hingga kini. Jadi malam ini ia akan bergabung bersama Ibu dan dua saudaranya dalam doa. Seto yakin Tuhan Yang Maha Baik mau menerima doa mereka sekeluarga ditambah orang-orang yang baru pulang dari mushola.

Tepat sesudah doa berakhir dan para jamaah undangan pulang setelah menerima bungkusan berisi nasi serta tanda terima kasih lainnya, langit pecah jua. Ibu lega hajatnya terlaksana.
"Besok kita ke kuburan ayah kalian, menyiramkan air doa ini," tuturnya pada ketiga anak di hadapan.

Air yang dimaksud sebetulnya air biasa didalam botol minuman satu setengah liter, tadi diletakkan di depan pemimpin jamaah selama pembacaan doa. Mereka memandangi benda tersebut dengan pikiran masing-masing.

**

Jumat Kliwon dianggap Jumat sakral bagi sebagian besar masyarakat Jawa. Tak heran banyak peziarah mementingkan hari tersebut untuk nyekar ke kuburan. Seto dan keluarganya turut larut dalam pawai tersebut. Berjalan kaki ke pekuburan Karang Suci yang hanya berjarak 500 meter saja. Tak lupa membawa aneka bunga tabur, dan uang receh secukupnya.

Buat apa, tanya Seto. Nanti kamu tahu sendiri tandas mbak Surti. Adiknya mengangkat bahu atas ketidakmengertian Seto. Ibu berjalan memimpin di depan, sesekali menyapa orang-orang yang berpapasan dengan mereka. Di langit, bola lampu Tuhan mulai memanjat naik.

Seto memang tak pernah menziarahi siapa pun di Jumat Kliwon di Karang Suci. Maka ia terperanjat bukan kepalang menyadari arus manusia memenuhi tiap tapak tanah pekuburan. Dan tidak semuanya peziarah. Seto menyadari itu saat mendapati lelaki atau perempuan yang membawa-bawa sapu lidi. Tiap ada rombongan mendatangi suatu kuburan, si pembawa sapu itu akan mendului membersihkan areal tanah dari apa saja yang mengotori. Tak lama ia akan menerima upah.

Ada juga sekelompok penjaja makanan dengan gerobak dagangan di atas motor, berhenti di pinggir-pinggir setapak menanti peziarah yang lapar. Seto pun melihat beberapa pemuda menjadikan makam yang dinaungi pohon Kepuh, sebagai tempat kongko dan bermain telepon pintar. Beberapa ekor anjing tampak tidur-tiduran dengan lidah menjulur. Belum lagi hilir mudik anak-anak kecil membuntuti peziarah sembari menadahkan tangan.

"Beri mereka, Rino," perintah mbak Surti. Setelah menerima sekeping-dua keping logam, anak-anak pembuntut tadi berhenti mengekori mereka dan berpindah pada orang lain.

"Tapi itu ada ibunya, Mbak!" Seto menunjuk seorang wanita berbaju lusuh, duduk di atas cungkup kuburan. Wanita itu mengawasi bahkan mengarahkan anak-anak tadi.

"Ya ampun, Seto, tentu saja! Mereka semua sedang ngethek¹ di sini!"

"Sshh, diamlah. Kita sudah sampai," Ibu melerai perdebatan mereka. Lokasi kuburan Ayah ada di pinggir Segara Anakan.

Seorang lelaki tua telah mencabuti rumput di sekitar kuburan, lalu menyapu hingga bersih. Dengan tersenyum lebar ia mempersilakan Ibu melakukan ritual ziarah. Sementara ia sendiri mundur dan menunggu di dekat situ.

 Seto berusaha memusatkan perhatian pada Ayah di balik tanah. Mereka berjongkok, mengusap kepala nisan, menangkup tangan, merapal doa bagi arwah Pak Birun--kepala keluarga terbaik yang pernah ada. Lalu Ibu menyiramkan air semalam, mbak Surti menyusuli dengan taburan bunga. Ritual selesai. Lelaki tadi kembali mendekat untuk mengambil upahnya.
Ibu beranjak meninggalkan kuburan Ayah. Kali ini Rino berjalan mendului, mbak Surti segera menjajari Ibu. Tapi Seto masih enggan beranjak. Pikirannya melantur. Angin meniup lepas kembang Kamboja menjatuhi kuburan-kuburan di bawahnya. Pemuda itu merasakan kesejukan di tengah keriuhan manusia di sekitarnya.

"Seto, ayo!" seru mbak Surti. Malas-malasan Seto berdiri lalu ikut beranjak meninggalkan rumah terakhir Ayah.

Para kethek mencangkung di atas dahan pepohonan Kepuh. Berceloteh tentang panen buah musim ini.
Anak-anak berlarian menelusup di antara para peziarah. Tertawa-tawa memamerkan gigi hitam kebanyakan makan gula-gula.

Kethek jantan riuh berkelakar tentang buah di dada manusia. Induk kethek menyusui bayi-bayinya.
Ada video panas sedang dibagi-bagikan lima pemuda tanggung. Pesta minuman menanti malam ini di pos ronda dekat kuburan.

Pasukan kethek menyebar di area pekuburan. Menarik-narik tangan, baju, tas peziarah. Minta jatah.
Lelaki dan perempuan berbaju lusuh. Berbagi area menyapu kuburan. Menatap pengunjung yang datang, meminta bayaran. Anak-anak menadahkan tangan. Orang-orang membayar jasa tukang gali, juru kunci, hingga juru doa kubur.

Ini tentang para kethek dan legenda yang tertinggal di Karang Suci. (*)

Keterangan:
¹ Ngethek : bertingkah laku seperti kethek (kera)
² Mendhak pindho : ritual selamatan memperingati +- 2 tahun meninggalnya seseorang.

Cilacap, 310317

(Kisah untuk: FAS, KBMers, Lovriners, dan BAwers).

8 komentar:

  1. Jadi ketheknya ganti yang lebih canggih kah?

    BalasHapus
  2. Wah... ini berdasarakan kisah nyata ya, Mbak?

    BalasHapus
  3. Iye, Bal.
    Tradisi di kuburan tempatku ya gitu itu

    BalasHapus
  4. Yeeyy.. Saya KBM-ers 😆😆😆

    Btw, kuburan Karang Suci beneran ada ya??? Peziarahnya datang justru malam hari ya? Woww!!

    BalasHapus