Cari Blog Ini

Sabtu, 25 April 2020

Kepompong Ramadhan

Kepompong| Pixabay


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Alhamdullilah,  sebagai seorang muslim saya merasa amat bersyukur masih bisa berjumpa dengan Ramadhan tahun ini. Saya yakin rasa yang sama dialami oleh jutaan kaum muslimin di seluruh dunia. Bagaimana tidak? Di tengah himpitan ketidakmenentuan situasi pandemi, Ramadhan bak oase. Ada berlimpah kebaikan, pahala yang dijanjikan Allah SWT, bagi hamba-hamba-Nya yang mau. No matter what.

Iya, sih, memang banyak perbedaan suasana antara Ramadhan tahun sebelumnya dengan tahun ini. Coba yuk, kita list:

- Tidak ada tarawih berjamaah di masjid;
- No tadarusan bareng kayak biasanya;
- Nggak ada kultum-kultum bada isya atau subuh;
- Bukber bersama di luar rumah ditiadakan;
- Ngabuburit sepi;
- Nggak ada petasan banting dinyalakan.
Ada lagi yang kelewat? Sobat tambahin sendiri, yaa. 😄

Gara-gara si kopidnentin, sih! Pasti itu dalih kebanyakan orang. Namun coba kita merenung sebentar, Sobat. Kita lihat masalah ini dari sisi lain, masa nggak ada manfaat yang bisa diambil? Kan, katanya semua hal di dunia punya dua sisi berlawanan. Kalau ada sisi nyebelin, pasti ada sisi nyenengin juga.

Kalau menurut hemat saya, nih, ya, sekarang adalah waktunya kita memperbaiki kualitas diri sebagus mungkin. Loh, kok?

Mari ngaku, selama ini Ramadhan kita berjalan hanya di kulit luar saja bukan? Kita rame-rame ke masjid tarawihan, tadarusan, tiap hari ngabuburit, mengeluarkan lebih banyak duit demi takjilan di rumah, belanja ini-itu untuk persiapan lebaran (padahal puasanya aja baru mulai seperempat jalan). Habis itu tinggal capeknya yang terasa. Kita balik lagi ke habit sehari-hari, seolah Ramadhan nggak kasih pelajaran ruhani apa pun. Bener nggak, Sobat? Eh, maaf, mbak Gita aja kaleee yang kayak gitu. 😜 Hmm....

Maka seperti saya sebut di atas, justru Ramadhan tahun ini adalah kesempatan memperbaiki kualitas diri. Saatnya kita menjadi kepompong. Sebagaimana perjuangan seekor ulat yang ingin bermetamorfosis menjadi kupu-kupu cantik, ia kudu rela tapa brata; membungkus dirinya dalam kepompong selama sekian hari, menahan diri dari nafsu. Hingga kelak pada masanya, dengan penuh kebanggaan ia keluar dari kepompong sebagai makhluk yang lebih indah.
Demikian pula harapannya bagi diri kita.

Kita perbagus kualitas ibadah di rumah Eratkan komunikasi dengan anak-anak, pasangan, atau orangtua. Ajak anggota keluarga kita mengisi waktu dengan amalan rumah, misal mengkaji buku-buku, menghapal Al Qur'an, shalat tarawih berjamaah, dll.  Saya teringat seorang teman yang mengunggah status terkait hal ini. Begini bunyinya:


Statusnya inspiratif, apalagi karena dia pun seorang ayah. 😁

Jadi bagaimana, Sobat? Jangan gabut lagi, ya. Menjadi kepompong Ramadhan? Kenapa tidak? (*)

Cilacap, 240420

#Day5
#BPN30DayRamadan2020

Jumat, 24 April 2020

Ini yang Dilakukan Warga Cilacap Jelang Ramadhan Tahun Ini


Sebatang Pohon Johar di Pemakaman Karang Suci. Dokpri.

Assalamu'alaikum Wr Wb.

Sobat, Alhamdulillah kita akan memasuki gerbang bulan Ramadhan. Segala kebaikan nan berlimpah, sebagaimana janji Allah SWT, tentu saja tidak akan berubah meskipun kita tengah berada di masa pandemi. Maka dari itu mari jaga semangat beribadah kita, Sobat! 😊

Btw, di tempat Sobat adakah tradisi yang biasanya dilakukan menjelang Ramadhan? Kalo di tempat saya namanya punggahan. Ini adalah tradisi di akhir bulan Sya'ban, di mana orang-orang pergi berziarah ke makam, guna mendoakan leluhur.

Tradisi yang rutin setiap tahun ini membuat TPU menjadi ramai didatangi peziarah lokal maupun luar kota. Hal ini tentu saja mendatangkan rezeki tiban bagi sebagian kalangan. Mereka yang turut mengais rezeki dari punggahan bakal menjadi pemandangan khas tersendiri. Contohnya di sepanjang jalan menuju pemakaman, berderet sejumlah kaum wanita yang menjajakan kembang sebagai taburan di atas kuburan. Masih ditambah lagi para pedagang makanan, juru parkir dadakan, tukang bersih-bersih kuburan, dan pengemis cilik di dalam TPU Karang Suci yang luas tersebut. Pokoknya rame!

Namun bukankah tahun ini berbeda?  Kita tengah berada di bawah bayang-bayang pandemi virus.  Ada larangan mudik, membentuk kerumunan massa,  serta himbauan untuk tetap di rumah terkecuali memang ada keperluan mendesak. Jangan-jangan tak ada warga yang melakukan punggahan tahun ini, sebagaimana ditiadakannya shalat tarawih berjamaah di masjid. Duh, terbayang di pelupuk saya betapa merananya para penjual kembang itu. 😣

Karena merasa penasaran, maka saya bertekad melihat sendiri suasana di dekat TPU Karang Suci. Kebetulan jaraknya tidak begitu jauh dari rumah saya, ya sekira 300 meter. Saya berjalan santai saja, melintasi gang-gang, lalu ke jalan Brantas, dan berhenti di pinggir lapangan Karang Suci. Apa yang saya lihat benar-benar di luar dugaan!

Di timpa sinar mentari sore, beberapa penjual  bunga di pinggir jalan terlihat semringah. Salah seorang saya kenal, dia tetangga saya. Kami mengobrol singkat dalam bahasa Jawa. Demi kemudahan percakapan tersebut saya terjemahkan.

"Habis kembangnya, Bu?"

"Habis!" Dia menjawab gembira. Kedua tangannya menanting tampah kosong, wajahnya kemerah-merahan terpapar panas matahari. Kemungkinan besar dia berjualan sejak siang terik tadi.

"Gimana, tetap rame nggak, Bu?"

"Tetap rame, koh. Ini kan punggahan, setahun sekali, jadi orang-orang tetap nyekar," urainya bersemangat.
"Kecuali kalo Kamis Wage, yang nyekar sekarang sepi."

Seorang peziarah berhenti sejenak membeli kembang di pinggir jalan Brantas. Dokpri.


Ya, yang diucapkannya memang betul. Kendaraan bermotor yang ditumpangi para peziarah terlihat menyesaki jalan Brantas hingga perempatan jalan Karang Suci. Beberapa mobil pun diparkir di pinggir jalan. Hah! Semangat orang-orang untuk berziarah kubur sebelum Ramadhan tiba nyatanya tak surut dalam situasi pandemi ini.

Beberapa petugas duduk di pos jaga sederhana, mengawasi lalu lalang peziarah. Dokpri.


Bedanya adalah, orang-orang yang datang itu hampir semua memakai masker. Kemudian tepat di mulut jalan Kolam Sari yang menuju pemakaman, ada beberapa petugas bermasker dan bersarung tangan, mengarahkan orang-orang untuk mencuci tangan di situ. Kendaraan bermotor pun tak diperbolehkan masuk ke dalam areal pemakaman, melainkan diparkir di tepi lapangan.


Sebagian kecil kendaraan yang diparkir di pinggir lapangan. Dokpri.

Saya kira inilah bentuk kearifan lokal warga setempat. Di tengah situasi yang kurang bersahabat pun mereka tetap mengingati dan mengirim doa pada para leluhur, atau sanak kadang yang telah meninggal. Demi hal tersebut mereka pun berkompromi untuk menyiasati keadaan. Siapa yang kuasa melarang?

Petang sebentar lagi tiba.  Saya lalu beranjak pulang. Ah, semoga semua segera membaik seperti semula. (*)

Cilacap, 230420

#Day4
#BPNRamadanDay2020

Kamis, 23 April 2020

Sudah Jatuh Masa Harus Ditimpa Tetangga Pula?

'All Against One. Pixabay

Assalamu'alaikum Wr Wb.

Sobat, tulisan saya ini masih melanjutkan topik seputar Covid-19, yaa.

Pernahkah kalian terpikir, ketika seseorang dinyatakan berstatus ODP (Orang Dalam Pengawasan), atau bahkan telah menjadi PDP (Pasien Dalam Pengawasan) akibat (diduga) terpapar Corona, apa yang terjadi terhadap keluarganya di rumah? Jika kalian ingin tahu, Sob, mereka dikucilkan warga sekitar. 😥

Ya, mereka dipandang sebagai pembawa wabah yang wajib dijauhi. Banyak juga yang menggunjing, menyalahkan status mereka, bahkan di tingkat ekstrim mereka menghadapi ancaman pengusiran dari rumah. Coba bayangkan sejenak; semenjak salah seorang anggota keluarga dinyatakan sebagai ODP/PDP, maka anggota keluarga lainnya wajib menjalani rapid test, lalu isolasi mandiri minimal 14 hari, otomatis kegiatan ekonominya terhenti, akibatnya stok pangan mereka pun nyaris nggak ada. Dalam kondisi begitu, mereka jelas butuh dibantu oleh lingkungan sekitar, bukan?

Bukan salah mereka sepenuhnya sehingga ikut terpapar virus. Lagipula belum tentu juga mereka positif terjangkit Corona. Mengapa warga mesti memberi sanksi sosial? Waspada boleh, panik jangan. Justru dukungan moril dan materil yang seharusnya warga sekitar berikan pada orang-orang ini.

Salah satu adik saya pernah mengalami baru-baru ini. Ceritanya, Adik nggak sengaja melakukan kontak fisik dengan orang yang mengalami gejala terkena Corona. Ketika orang yang sakit itu betulan menjadi PDP dan masuk ruang isolasi di Rumkit, Adik kena konsekuensinya. Atas sepengetahuan pihak RT-nya, adik saya menjalani isolasi mandiri di lantai dua rumahnya. Dia dilarang kontak fisik dengan anak-istrinya yang tinggal di lantai satu. Otomatis adik saya berhenti cari nafkah sementara waktu.

Nah, keluarganya memang kemudian mendapat bantuan sembako dari RT. Namun tetangga kanan-kiri menggunjingi, menyalahkan Adik, dan menganggap keluarganya seperti monster yang harus dijauhi. Jadi bukan dukungan moril yang mereka terima, melainkan beban pikiran dan perasaan. Akibatnya Adik dan istrinya malah bertengkar sendiri, lalai untuk saling menguatkan.

Syukurlah keadaan mereka kini berangsur normal kembali, setelah Adik selesai menjalani karantina mandiri, dan hasilnya negatif. Tapi yang pernah mereka alami pasti mengguratkan trauma.

Baca juga: Ini yang Dilakukan Warga Cilacap Jelang Ramadhan Tahun Ini

Pandemi Corona ini janganlah mengikis semangat persaudaraan, rasa peduli pada sesama, dan empati kita. Kepada siapa pun. Sobat setuju?(*)

Cilacap, 220420

#Day3
#BPNRamadanDay2020

Rabu, 22 April 2020

Simpang Siur Berita di Masa Pandemi



Mengamati Wajah-wajah. Sumber: pixabay

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Halo, sobat! Jumpa lagi kita. Selamat hari Kartini bagi para perempuan Indonesia. 🌹💐

Kita masih membicarakan si Kopidnentin, nih, Sobat. Kalian pasti sedikit banyak telah merasakan tekanan suasana akhir-akhir ini. Seperti tengah dibayangi awan hitam tebal yang menutupi sinar matahari, begitulah gambarannya. Semua ini terjadi tentu saja karena makin hari keadaan makin terasa tak menentu, para ODP dan PDP terus bermunculan. Mereka bisa jadi adalah orang yang telah kalian kenal, entah teman, tetangga, atau bahkan saudara sendiri.

Ketika Sobat ke warung dekat rumah hendak beli kopi, tahu-tahu ada pembeli yang memberikan, "Kemarin jalan S dilokdon! Ada yang positif!" Sedangkan Sobat dan si pembawa kabar itu  sama-sama tahu  bahwa jalan S  hanya berjarak satu kilometer dari wilayah Sobat. Tentu berita barusan bakal bikin kalian cemas, takut, gelisah, bukan? Acara beli kopi lalu pulang malah bisa jadi berpanjangan dengan kalian saling bicara dan bertukar ketakutan. Bener, nggak?

Nah, padahal ya, berita-berita semacam itu belum pasti kebenarannya, loh! Maksudnya?
Maksud saya, okelah jalan S sudah dilokdon. Tapi benarkah orang yang dinyatakan positif itu betul-betul positif terinfeksi Covid-19? Hmmm... Bingung jawabnya. Lalu, sudahkah ada rilis resmi mengenai status orang itu, dari RSUD atau dinas kesehatan? Hmmm... Belum, sih. Nah, itu! Itu namanya berita masih simpang siur.

Sobat, untuk mengetahui status apakah seseorang terpapar cinta atau nggak, kita bisa menandainya secara kasatmata. Sebab biasanya ada perubahan perilaku secara mencolok, yang pendiam jadi makin diam, yang cerewet jadi pendiam, misalnya. Atau tahu-tahu jadi punya hobi baru, dulu nggak suka masak sekarang hobi banget praktek resep, dulu benci mancing sekarang tahu-tahu hapal semua merk tongkat pancing. Dst, dsb, endebre-endebre. 😛

Tapi berkebalikan dengan status terpapar Corona, kita tidak bisa langsung memutuskan dari gejala-gejala yang kasatmata. Kita perlu bantuan alat tes, Sob. Karena yang kita hadapi adalah makhluk berukuran mikroskopik dan bersembunyi di dalam jaringan tubuh manusia.

Nah, berdasarkan ilmu medis terkini kita bisa tahu ada 2 jenis tes yang lazim dipakai. Pertama rapid test, kedua swab test. Saya kutip dari laman alodokter, yuk cekidot penjelasan kedua macam tes tersebut.

1. Rapid Test


Petugas medis menunjukkan alat Rapid Test. Sumber: web Kompas.com

Rapid test adalah metode skrining awal untuk mendeteksi antibodi, iyaitu IgM dan IgG, yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus Corona. Antibodi ini akan dibentuk oleh tubuh bila ada paparan virus Corona.

Dengan kata lain, bila antibodi ini terdeteksi di dalam tubuh seseorang, artinya tubuh orang tersebut pernah terpapar atau dimasuki oleh virus Corona. 

Namun perlu  diketahui, pembentukan antibodi ini memerlukan waktu, bahkan bisa sampai beberapa minggu.
Jadi, rapid test di sini hanyalah sebagai pemeriksaan skrining atau pemeriksaan penyaring, bukan pemeriksaan untuk mendiagnosa infeksi virus Corona atau COVID-19.

Tes ini ditujukan agar pemerintah dan petugas kesehatan bisa mengetahui siapa saja orang yang berpotensi menyebarkan virus Corona dan melakukan tindakan pencegahan agar jumlah kasus COVID-19 tidak semakin bertambah.

2. Swab Test

Pemeriksaan swab Test. Sumber: Borneo Post Online

Swab test, yang dimaksudkan untuk pemeriksaan konfirmasi Covid-19, adalah mengambil sampel dari saluran pernafasan (biasanya tenggorokan dan mukosa hidung), dengan alat khusus seperti cotton bud panjang. Kemudian sampel dimasukkan ke kontainer khusus dan diperiksa di laboratorium menggunakan metode RT-PCR (Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction). 

Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan kuantitatif yang dapat mendeteksi virus SARS-CoV-2 di dalam tubuh penderita, baik pada penderita dengan atau tanpa gejala (asimtomatis) - carrier.

Sekarang sudah lebih jelas, kan, Sobat? Mudah-mudahan kita terhindar dari kepanikan berlebihan kala menerima berita apa pun perihal covid-19. Karena bisa mempengaruhi daya imunitas tubuh kita sendiri. Paling aman, tetap ikuti anjuran pola hidup sehat dan bersih di lingkungan kita. Semoga wabah ini segera menghilang dari kehidupan kita. Aamiin. (*)

Cilacap, 210420

Baca juga: Sudah Jatuh, Masa Harus Ditimpa Tetangga Pula?


#Day2
#BPNRamadanDay2020



Selasa, 21 April 2020

Portal Mandiri oleh Warga

Warga RW XI, Donan, Cilacap Tengah, melakukan penutupan wilayah secara mandiri. Dokpri.


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Halo, Sobat! Bahagia rasanya saya bisa kembali menjumpai kalian lewat tulisan. Semoga kita semua dilimpahi kesehatan, keamanan, dan rezeki oleh Allah, yaa. Aamiin.

Tanpa terasa telah berlalu sebulan semenjak himbauan Bapak  Bupati, agar warga Cilacap mengurangi aktivitas di luar rumah, kecuali bersifat mendesak. Selama itu pulalah KBM di sekolah telah diliburkan, diganti dengan belajar di rumah. Tak lupa dilakukan sosialisasi Gerakan Masyarakat Sehat meliputi menjaga kebersihan diri, etika batuk dan bersin, konsumsi makanan sehat, serta menjaga jarak aman di tempat umum, dan larangan berkerumun.

Dinas terkait bekerja sama dengan satpol PP pun melakukan penyemprotan desinfektan di area publik; pembagian masker cuma-cuma; hingga penyediaan air bersih mengalir, sabun, serta cairan antiseptik di muka kantor-kantor pemerintah maupun swasta. Kesemua hal tersebut di atas dilakukan demi melawan penyebaran si kopidnentin, aka Covid-19.

Saya pikir sobat semua sudah banyak membaca artikel, atau menonton berita sehingga mengetahui  apa dan bagaimana cara penularannya kepada manusia. Namun tak ada salahnya jika di bawah ini saya sisipkan sebuah infografis tentang virus Corona.

Salah satu poster infografis mengenai Covid-19 di web cnnindonesia.com. 

Sayangnya masih banyak masyarakat yang abai terhadap aneka himbauan pemerintah, dengan berbagai alasan, salah satunya alasan ekonomi. (Ya, maklum saja, urusan perut bisa bikin orang kalap bila tidak terpenuhi. Maka diperlukan kebijakan yang tepat guna memberi solusi masalah ekonomi di masa pandemi ini). Hal ini membuat peta penyebaran virus malah semakin meluas, dan Dinas Kesehatan serta paramedis dipaksa semakin bekerja keras.

Dalam situasi begini, bermunculanlah inisiatif dari warga masyarakat untuk membuat portal  mandiri di lingkungan masing-masing. Ambil contoh sebagaimana foto di atas, warga RW XI kelurahan  Donan. Mereka telah membuat beberapa portal yang memagari batas antar RW, dengan satu pintu masuk yang dijaga beberapa pemuda secara bergiliran.  Warga yang berkendara sepeda motor atau mobil, kemudian mencuci tangan dengan air dan sabun yang telah disediakan.

Tentunya dengan adanya portal tersebut, warga berharap dapat melakukan pemantauan lalu lintas orang di lingkungannya. Sehingga mengurangi resiko penyebaran virus Corona. Tentu inisiatif ini patut diapresiasi semua pihak.

Meskipun demikian, sayangnya ada beberapa 'lubang masalah' dalam pelaksanaan portal mandiri ini. Yaitu:

1. Keberadaan portal memang bisa mengurangi lalu lalang pengendara kendaraan bermotor, tetapi tidak dengan pejalan kaki. Orang-orang ini tetap leluasa menerobos wilayah itu tanpa pengawasan penjaga portal. Karena tetap ada celah yang cukup lebar. Artinya, belum semua warga mau mematuhi pembatasan wilayah tersebut.

2.  Pos-pos penjagaan tersebut rentan dimanfaatkan sebagai tempat kumpul-kumpul pemuda. Ada yang bermain gitar, gawai, atau mengobrol. Tentunya kondisi ini justru melanggar larangan berkerumun. Mereka pun tidak menerapkan aturan standar menjaga jarak aman, dan tidak memakai masker.

Baca juga: Simpang Siur Berita di Masa Pandemi

Sungguh patut disayangkan, bukan? Menurut saya, seyogyanya inisiatif warga tersebut diikuti pengawasan dan pendampingan dari pihak berwenang misalnya pemerintah desa, dan dinas kesehatan daerah. Pendampingan itu perlu agar warga benar-benar teredukasi mengenai cara pencegahan penyebaran wabah yang benar. Tujuannya tentu agar tidak menimbulkan masalah baru atau bahkan blunder yang tidak perlu.

Sebab keinginan dan doa kita semua sama:  wabah segera berlalu. Maka  diperlukan sinergi antara pemegang kebijakan dan masyarakat umum. (*)

Cilacap, 200420

#Day1
#BPNRamadanDay2020